PENGALAMAN PERTAMA MENDAKI GUNUNG SALAK
Embun masih menetes dan kabut masih menyelimuti pagi. Dingin yang datang
bersama angin menyusup ke dalam kamar seakan ingin memenuhi ruangan ini. Aku
terbangun. “Brrr..adem tenan..!” Kubuka jendela. Benar, kabut masih terlihat di
halaman rumah mengaburkan pandangan mata dan embun menempati rumput dan
dedaunan yang segar. Pagi di rumah nenek.
Pagi hari hanya udara segar yang melegakan dada dan menenangkan perasaanku.
Sepertinya tidak ada tempat yang lebih menyenangkan selain di sini. Pemandangan
indah Gunung Salak yang kokoh berdiri, hamparan sawah hijau yang tertata alami,
dan aliran sungai dengan bebatuan besar dan kecil yang berserakan. Di balik
bebatuan itu menjadi tempat mandi ibu-ibu, anak-anak muda, gadis-gadis, maupun
bocah-bocah sambil bergurau senang. Ditambah lagi suara-suara burung terdengar
diantara pepohonan. Situasi seperti inilah yang membuatku selalu kangen ingin
kembali lagi ke desa ini.
Pagi itu, aku ajak Tia, sepupuku, berjalan-jalan santai menyelusuri pematang
sawah dan jalan setapak yang sedikit menanjak menuju desa tetangga.
“Udaranya segar, ya” ujarku sambil meregangkan tangan dan meloncat-loncat
ringan. Lega rasanya. Tia tampak tersenyum. Tangannya juga mulai
digerak-gerakkan.
“Mau kemana lagi,?” Tanya Tia.
“Ke puncak Gunung Salak itu, ya. Aku ingin sekali mendaki Gunung Salak,” aku
berhenti sejenak. Kupandangi lekuk dan warna hijau gunung itu dari jarak yang
entah berapa kilometer jauhnya. Tapi selalu saja tampak dekat dari tempat
berdiri.
Aku selalu kagum melihat timbunan tanah yang menjulang tinggi itu. Di dalam perutnya terdapat lapisan tanah dan batu-batuan
yang mengandung mineral serta magma panas yang suatu waktu siap dimuntahkan.
Ketika Allah berkehendak, maka gunung-gunung akan meletus dan isinya akan
beterbangan bagai laron. SubhanAllah..rasanya bila sudah bisa berdiri di
puncaknya, aku akan berteriak.. “Heii…aku melihat kalian!” Senangnya!
Aku memang bukan seorang pendaki gunung karena kecilku dulu tidak terlatih
untuk melakukan kegiatan yang ‘menantang’, jadi aku termasuk orang yang takut
akan ketinggian.Tapi kekagumanku kepada gunung melebihi pendaki gunung -amatir-
yang sering melakukan pendakian, hahaha.
“Serius mau ke Gunung Salak?” tanya Tia membuyarkan pandanganku.
“Ayo, kapan ya? Aku siaplah…!” ujarku bersemangat. Aku berlari sedikit
kencang dan meninggalkan Tia. Menuruni jalan setapak di daerah perbukitan
sangat menyenangkan tapi juga harus berhati-hati. Aku sempat tergelincir karena
kurang memperhatikan jalan bergelombang yang ada dibibir jalan setapak itu.
Semangatku sedikit menghapus rasa sakit di pergelangan kaki kanan.
“Tia bilang ke Abah, ya kalau dia mau mendaki gunung,” ujar Tia setelah
sampai di rumah nenek. Aku anggukkan kepala tanda setuju.
Sore hari, nenek sudah menyediakan teh manis hangat. Kami duduk di beranda
rumah. Pandangan di depan mata adalah kebun bunga yang indah. Nenek memang
senang menanam bunga. Dibantu oleh Pak Arya, nenek menghiasi halaman rumahnya
dengan aneka bunga seperti di beranda surgawi.
“Parah mau mendaki gunung, ya?” sapa Pak Arya sedikit mengagetkanku. Pak
Arya seperti kebanyakan orang Sunda yang kurang fasih melafalkan huruf F.
Padahal namaku kan , Farah Maharani.
“Siapa bilang orang Sunda tidak bisa bilang F? PITNAH!”, hahaha…
“Iya,. Bisa antar ke sana, ya?”
“Baik. Nanti ajak juga beberapa saudara biar ramai, ya,”
“Memangnya kalau bertiga saja kenapa?” tanyaku penasaran. Pak Arya cuma
tersenyum. Diambilnya gelas berisi teh hangat lalu diminumnya.
Pak Arya ternyata benar-benar serius mempersiapkan segala sesuatu untuk
pendakian. Dibawakannya tambang plastik berukuran sedang, 2 buah pisau, 5
batang lilin beserta korek api, tikar, 3 pasang sarung tangan yang sudah
terlihat lusuh, dan lentera untuk kemping. Semua diletakkan di teras rumah.
“Jam berapa kita berangkat?” tanyaku.
“Nanti jam satu malam, yah!”
“Apa?” Aku kaget, sudah tentu. Masa mendaki harus jam satu malam? Belum lagi
hari masih gelap dan sudah terbayang udara dingin sangat menusuk. Jam satu
malam? Tapi biarlah. Aku kan memang niat ingin mendaki Gunung Salak.
Jadi…biarlah udara dingin menyelimuti di kegelapan malam.
Aku, paman, Arif, Hafidz, Nina, Ratih, Tia dan Dian ikut dalam rencana
pendakian.Seperti anak-anak pramuka, kami berbaris dengan aba-aba dari Pak
Arya. “Siaaap..maju..jalan!” Dengan sikap berbaris yang santai…Saat itu bulan
purnama. Cahaya terangnya membantu perjalanan, dingin menusuk tulang,
suara-suara hewan yang hanya terdengar malam hari, rasanya memberi sensasi
mistis pada perjalanan kami menuju pintu jalur pendakian. Biasanya Gunung Salak
dapat didaki dari beberapa jalur pendakian. Puncak yang paling sering didaki
adalah puncak II dan I. Jalur yang paling ramai adalah melalui Curug Nangka, di
sebelah utara gunung. Melalui jalur ini, orang akan sampai pada puncak Salak
II. Puncak Salak I biasanya didaki dari arah timur, yakni Cimelati dekat
Cicurug. Salak I bisa juga dicapai dari Salak II, dan dengan banyak kesulitan,
dari Sukamantri, Ciapus. Lalu…jalur yang kami lalui ini termasuk jalur mana? Soalnya
desa ini bukan wilayah Curug Nangka atau Cimelati. Tapi dekat dengan Curug Luhur
dan desa Tendjolaya. Pak Arya tersenyum ketika aku menanyakannya. “Ini jalur
warisan.,” ujar pak Arya kalem.
Lewat jalur warisan ini, kami melalui jalan setapak yang ditutupi dedaunan,
ranting-ranting, dan buah-buah kecil berserakan. Semuanya terasa lembab,
mungkin dikarenakan udara malam yang berkabut dan berembun. Jalan setapak ini
semakin lama semakin menanjak dan harus dilalui hati-hati. Beberapa ranting
yang berserakan terasa agak tajam dan di kiri dan kanan jalan penuh rimbunan
pohon, ada juga genangan air. yang bisa membuat kaki terperosok. Kami harus
saling berpegangan pada sebatang kayu yang dipegang beberapa orang. Pegangan
tanganku pada kayu itu sempat terlepas karena kakiku terantuk batu dan aku
terhuyung hampir jatuh. Aku beristighfar karena kaget. Belum selesai rasa
kagetku, Nina juga sedikit berteriak dan melonjak-lonjak. ” Apa lagi?” Dengan
cepat Arif mengarahkan senter ke kaki Nina. Wah…ternyata pada kakinya menempel
lintah kecil. Binatang ini menghisap darah sehingga badannya yang kecil semakin
lama akan membesar. Pak Arya dengan cepat melepaskan pacet itu dari kaki Nina.
Duh…
sakitnya!
“ Perjalanan melewati jalan
setapak berakhir di tanah lapang tetapi masih di kelilingi pohon-pohon besar
dan rindang. Ketinggian tempat ini sudah puluhan meter lebih tinggi dari jalan
semula. Pantas saja kakiku terasa pegal dan sempat kram. Semua yang ikut
benar-benar merasa lelah. Berbekal tikar yang dibawa, kami duduk dan
beristirahat dengan posisi saling mendekat. Pak Arya bilang, di tempat ini
masih banyak macan siluman yang lewat. Jadilah kami tak berani berpencar saling
menjauh., Suara tonggeret sebutan untuk segala jenis serangga yang mengeluarkan
suara nyaring dari pepohonan dan berlangsung lama. Selain Tonggeret, orang
Sunda menyebutnya cengreret, orang Jawa menyebutnya garengpung atau uir-uir,
tergantung suara yang dikeluarkan, menambah suasana mencekam. Belum lagi angin
pegunungan yang sangat dingin membuat sendi-sendi terasa linu dan bulu kuduk
berdiri.Saat itu jam tanganku menunjukkan pukul 2.45 pagi. Aku mulai mengantuk
tapi tak bisa tidur karena merasakan dingin dan suasana yang mencekam.
Bayangkan saja, berada di kawasan hutan Gunung Salak yang berada di ketinggian
dan ditutupi pepohonan rindang. Gelap, dingin, beraroma tanah lembab dan
dedaunan. Suara-suara binatang malam dan entah suara-suara apa lagi yang
terdengar dan membuat imajinasi mistis saat itu. Aku tetap merapatkan tubuh ke
punggung Nina. Rasanya ingin beristirahat lebih lama lagi untuk menghilangkan
lelah ini. Tapi Pak Arya mulai berdiri dan merapikan barang-barang bawaannya.
“Waduh… jalan lagi ya, Pak?” tanyaku dan Dian hampir bersamaan.
“Masih jauh ya perjalanannya pak?” tanya Ratih dalam perjalanan kami
selanjutnya. Masih melewati jalan setapak. Berharap ada jalan besar dan
beraspal, hehehe. Kembali kami jalan berbaris dan bersikap hati-hati dengan
banyaknya ranting, batu, dan juga lintah. Beberapa meter jalan telah dilalui,
ternyata tercium bau khas belerang. Bau menyengat belerang itu tercium di
sebelah kanan . Kami penasaran ingin melihat apakah di jurang itu memang ada
letupan belerang yang keluar. Tetapi Pak Arya melarang karena jurang itu sangat
dalam dan untuk mendekatinya harus menyusuri semak-semak yang rimbun.
Benar-benar penasaran jadinya. Terciumnya belerang sudah menandakan sudah
dekatnya salah satu kawah yang ada di Gunung Salak. Dan itu tujuan akhir kami
dalam pendakian ini.
Setelah perjalanan jauh kami semua
akhirnya kami melihat sunrise dan ternyata kita sudah sampai di puncak gunung
salak, dan kita menggeletak di tanah sambil melihat pemandangan di puncak
gunung. SELESAI……